Lalu, apakah bentuk kesadaran
seperti itu masih ada di tengah serbuan modernisasi yang kurang dicermati
secara arif oleh generasi terkini ? Dimana segala sesuatu diukur dengan
statistik, pertimbagan material. Pertanyaan ini, barangkali terlalu gegabah
untuk diungkapkan. Tetapi, bagi saya pribadi ini cukup menggelisahkan. Karena
secara sadar, saya tumbuh di tengah-tengah masyarakat yang boleh jadi masih
memiliki tradisi-tradisi yang sampai hari ini masih tumbuh. Namun, perlahan
tradisi-tradisi yang dimaksud mulai tersingkirkan. Dalam pada ini, kegalauan
saya barangkali tidak dapat ditebus dengan apapun, kecuali menyikapinya dengan
mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan realitas modernisasi.
***









